Selasa, 27 November 2012

Ekologi Lahan Basah


Mengenal Lahan Basah di Wilayah Kalimantan Selatan Sebagai Potensi Alam yang Perlu Dilestarikan

Lahan basah adalah istilah kolektif tentang ekosistem yang pembentukkannya dikuasai oleh air, dan proses serta cirinya terutama dikendalikan oleh air. Suatu lahan basah adalah suatu tempat yang cukup basah selama waktu cukup panjang bagi pengembangan vegetasi dan organisme lain yang teradaptasi khusus (Maltby,1986). Menurut konferensi ramsar sendiri lahan basah(wetlands) dapat diartikan sebagai lahan basah yang secara alami atau buatan selalu tergenang, baik secara terus-menerus ataupun musiman, dengan air yang diam ataupun mengalir. Air yang menggenangi lahan basah dapat berupa air tawar, payau dan asin. Tinggi muka air laut yang menggenangi lahan basah yang terdapat di pinggir laut tidak lebih dari 6 meter pada kondisi surut.
Kalimantan merupakan pulau yang besar, sebagian besar wilayah daratannya didominasi oleh lahan basah berupa sungai, rawa, pesisir pantai yang secara tidak langsung berperan dalam proses hidrologi di pulau ini. Luas wilayah Kalimantan Selatan 37.531 km2 dengan luas lahan basahnya mencapai 382.272 ha. Lahan basah di Kalimantan Selatan merupakan daerah cekungan pada dataran rendah yang pada musim penghujan tergenang tinggi oleh air luapan dari sungai atau kumpulan air hujan, pada musim kemarau airnya menjadi kering. Kebanyakan lahan basah di Kalimantan Selatan adalah kawasan rawa.

Lahan gambut di Kalimantan umumnya terletak pada zona lahan rawa air tawar, dan sebagian pada zona lahan rawa pasang surut. Secara spesifik, lahan gambut menempati berbagai satuan fisiografi/landform, yaitu kubah gambut, cekungan dataran danau, rawa belakang sungai, cekungan sepanjang sungai besar termasuk oxbow lake atau meander sungai, dan dataran pantai. Dataran dan kubah gambut terbentang pada cekungan luas di antara sungai-sungai besar, dari dataran pantai ke arah hilir sungai hingga mencapai jarak 10-30 km. Keracunan terjadi bila lapisan gambut telah menipis, baik karena kesalahan dalam pembukaan maupun karena terjadinya subsidence, sehingga senyawa pirit teroksidasi dan menghasilkan asam sulfat dan besi.
Daerah ini di dominasi oleh vegetasi tanaman rawa seperti purun tikus, pohon galam, teratai, karamunting, dan paku-pakuan. Vegetasi yang tumbuh disini masih terhitung usia muda, jarang sekali terdapat tanaman dengan ukuran besar, hanya ada pohon galam yang masih kecil. Hal ini membuktikan bahwa kawasan ini pernah terjadi kebakaran lahan gambut. Tanaman purun tikus mendominasi daerah ini merupakan indikator yang membuktikan bahwa lahan gambut bersifat sulfat masam. Teratai hidup di air yang berwarna coklat kehijauan dan sedikit berbau. Lahan ini juga merupakan habitat bagi hewan-hewan yang dapat hidup disini seperti nyamuk, ikan gabus, ikan sepat, serangga air, capung dan belalang, dll.

Reklamasi yang dilakukan pada daerah ini tidak mempertimbangkan keseimbangan ekosistem rawa maupun kelestarian lahan gambut itu sendiri. Sehingga menimbulkan dampak yang memprihatinkan pada lahan ini. Salah satunya aliran air rawa yang tidak lancar akibat penimbunan tanah diatas lahan gambut. Hal ini juga berakibat kurangnya kadar oksigen di dalam air sehingga berwarna coklat hingga kehijauan. Pembakaran lahan juga termasuk salah satu cara reklamasi yang dilakukan, menyebabkan tanah gambut berubah seperti arang dan tidak mampu lagi menyerap hara serta menahan air. Kondisi tanah yang seperti ini mengakibatkan minimnya tanaman yang mampu bertahan.
Dan secara tidak langsung berdampak kepada tanaman obat yang tumbuh di sini. Beberapa tanaman yang berpotensial sebagai tanaman obat seperti teratai (berkhasiat untuk gangguan penyerapan makanan, susah tidur, mimisan), jambu biji (antiinflamasi, hemostatik), karamunting (diare dan diabetes) dan kemungkinan masih ada beberapa tanaman lainnya yang jika diidentifikasi lebih lanjut juga memiliki khasiat dalam bidang kefarmasian.Sayang sekali jika tanaman-tanaman yang berpotensial tersebut tidak dapat bertahan lama di lahan ini, hanya karena reklamasi yang tidak memperhatikan keadaan ekosistem di lahan tersebut.


Daerah pesisir pantai pagatan besar
Pesisir menjadi wahana manusia untuk beraktivitas. Sebagian besar mata pencaharian penduduk setempat adalah nelayan dan bertani. Sehingga mereka dapat berperan dalam kegiatan ekonomi, hukum, pemerintahan dan kemasyarakatan lainnya. Banyak sekali indikator yang dapat digunakan untuk menilai peran masyarakat yang hidup di kawasan pantai ini. Pagatan besar merupakan namadesa kecil yang terletak di pesisir selatan provinsi Kalimantan Selatanmerupakan sebuah wilayah yang merupakan batas antara ekosistem laut dan daratan. Kawasan pantai, hutan mangrove dan persawahan pasang surut yang merupakan rona alam yang membentang dari garis pantai menuju daratan. Kawasan ini menjadi habitat bagi berbagai jenis organisme.
Daerah ini merupakan daerah yang aktif oleh aktivitas gelombang sehingga mengakibatkan adanya Abrasi. Abrasi yang terjadi di kawasan ini juga dipengaruhi oleh berkurangnya vegetasi hutan bakau di pinggir pantai yang berfungsi sebagai pemecah ombak sehingga ombak secara langsung mengikis bagian bibir pantai. Vegetasi bakau susah hidup di daerah ini dikarenakan struktur tanah yang berpasir. Hanya sedikit spesies bakau yang dapat hidup disini, seperti Tanaman api-api (Avicennia marina).
Daerah ini merupakan habitat bagi ikan laut,  udang,  kerang,  timpakul,  nyamuk,  sapi,  kepiting. Daerah ini juga ditumbuh tanaman obat seperti ;Mengkudu (Morinda citrifolia L) dapat menurunkan kadar kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) dan trigliserida, serta meningkatkan kadar kolesterol High Density Lipoprotein (HDL), selain itu dapat diguakansebagai obat cacingAscaridia galli. Alkaloidnya bekerja di dalam sel tubuh untuk mengatasi peradangan, mempercepat pertumbuhan, dan mengatur pertumbuhan sel normal ; Jambu Biji (Psidii guajava) digunakan sebagai obat diare karena kandungan zat penyamak, minyak atsiri dan egenol serta untuk relaksasi tonus otot polos ; Lempuyang pahit (Zingeber littorale) memiliki kandungan minyak atsiri dengan komponen utama seskuiterpenketon dan fungsinya sebagai pereda kejang perut ; Api-api (Avicennia marina) pengobatan untuk mengatur kelahiran dan mencegah kehamilan atau dapat dikatakan sebagai kontrasepsi alami.
Secara tidak langsung letak geografis pantai ini membawa dampak negatif terhadap kelestarian pantai. Pantai ini merupakan muara dari sungai Barito, sehingga partikel-partikel tanah berupa lumpur yang terbawa dari pegunungan membuat keruh air di pantai. Belum lagi tercemarnya kawasan ini akibat adanya sebuah pabrik yang membuang limbahnya berupa logam berat ke laut.

Sedimentasi berupa lumpur berwarna hitam sampai kehijauan yang selanjutnya menggumpal sehingga berbentuk seperti batu di sepanjang pesisir pantai membuat pantai ini kehilangan nilai estetika sebuah pantai.
Kondisi pantai yang memprihatinkan juga berdampak pada masyarakat yang bermukim di pesisir tersebut. Salinitas dan kekurangan air bersih merupakan masalah utama bagi masyarakat. Masyarakat harus membeli air seharga 1500 per dirigen untuk mendapatkan air bersih. Sumur-sumur yang dibuat masyarakat sekitar tidak dapat digunakan untuk keperluan memasak karena air berasa asin. Hal ini diakibatkan adanya intrusi air laut yang memasuki air tanah pesisir. Penggunaan air sumur hanya digunakan untuk mandi dan mencuci, berakibat rentannya terjangkit penyakit kulit.
Permasalahan selanjutnya adalah minimnya pelayanan kesehatan di daerah ini. Seorang penduduk menuturkan bahwa di daerah ini terdapat dua buah layanan kesehatan yaitu puskesmas dan posyandu. Seminggu sekali posyandu mengadakan pemberian imunisasi terhadap anak-anak balita. Namun semua pelayanan kesehatan hanya di tangani oleh bidan, dari mendiagnosa penyakit, pemberian obat. Hal tersebut dikarenakan kurangnya tenaga medis di daerah ini.
Lahan gambut



Lahan rawa gambut di Indonesia cukup luas, mencapai 20,6 juta ha atau 10,8% dari luas daratan Indonesia. Lahan rawa Gambut adalah lahan rawa yang didominasi oleh tanah gambut. Lahan ini mempunyai fungsi hidrologi dan lingkungan bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta makhluk hidup lainnya sehingga harus dilindungi dan dilestarikan.
Kerusakan hutan rawa gambut berawal dari perubahan status hidrologi akibat kanal liar dan kanal program pemerintah. Suatu pernyataan bahwa lebih baikMENCEGAH daripada MENGOBATI, tampaknya sangat identik dengan ”lebih baik mempertahankan vegetasi yang ada dibandingkan melakukan penanaman vegetasi baru pada bekas kebakaran”. Kebakaran hutan rawa gambut tidak hanya memusnahkan ratusan spesies tumbuhan, tetapi akan terjadi kehilangan lapisan gambut dan meningkatkan konsentrasi CO2 ke atmosfir. Terkait dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan isu karbon yang telah mendunia, maka saatnya bagi pemerintah memberi tanggungjawab penuh bagi masyarakat kecil dengan kompensasi yang jelas untuk mempertahankan potensi hutan rawa gambut.
Berdasarkan karakteristik tanah gambut serta permasalahan yang timbul akibat kekeliruan pengelolaan lahan gambut, maka pemanfaatan lahan gambut perlu dikaji kembali karena pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian terutama lapisan gambut tebal sangat bermasalah dan memerlukan biaya tinggi. Kebakaran lahan gambut juga harus menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat sekitar agar kebakaran dapat dihindari. Selain itu dalam hal pembuatan saluran drainase pada lahan gambut yang dapat menyebabkan perubahan status hidrologi dan akhirnya perubahan ekosistem dapat ditanggulangi dengan baik. Sehingga potensi puluhan hingga ratusan jenis vegetasi alami hutan rawa gambut, lebih layak dan berkelanjutan sebagai sumber pendapatan masyarakat.
Pemanfaatan lahan gambut untuk tetap dipertahankan sebagai habitat ratusan species tanaman hutan, merupakan suatu kebijakan yang sangat tepat. Disamping kawasan gambut tetap mampu menyumbangkan fungsi ekonomi bagi manusia di sekitarnya (produk kayu dan non kayu) secara berkelanjutan, fungsi ekologi hutan rawa gambut sebagai pengendali suhu, kelembaban udara dan hidrologi kawasan akan tetap berlangsung sebagai konsekuensi dari ekosistemnya tidak berubah. Maka “Wise Use of Tropical Peatland” hendaknya tidak lagi harus dipaksa untuk melakukan perubahan yang justru mengakibatkan munculnya permasalahan baru yang berdampak negatif bagi manusia dan lingkungan.
Permasalahan-permasalahan diatas yang selalu terjadi di lapangan dan ancaman jangka panjangnya bagi manusia dan lingkungan, perlu adanya solusi yang harus digalakkan. Pada lahan gambut dengan ketebalan lapisan (≥ 1 m) harus dapatdimanfaatkan untuk habitat flora/fauna asli setempat.
Lahan gambut yang telah rusak dan diawali dari perubahan status hidrologi, harus dipulihkan dengan memprioritaskan upaya pemulihan status hidrologinya. Pengamanan potensi gambut dari ancaman kebakaran hendaknya diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat melalui kompensasi terhadap kemampuan menekan laju emisi karbon. Lahan gambut yang terbuka harus dihutankan kembali dengan species lokal dengan menerapkan sistem ”Beli Tanaman Tumbuh”. Jadi pemanfaatan lahan gambut yang keliru dan dominan menimbulkan masalah dan ancaman jangka panjang bagi manusia, sebaiknya segera ditinggalkan, agar tidak memperpanjang dan memperluas permasalahan lingkungan.








Daerah pesisir pagatan besar


Permasalahan-permasalahan seperti abrasi yang terjadi akibat penggerusan langsung ombak, minimnya vegetasi bakau dan api-api yang berfungsi sebagai pemecah gelombang, keruhnya air laut dan sedimentasi yang menimbulkan tumpukan lumpur di pinggir pantai akibat partikel lumpur yang terlarut dari air sungai bagian hulu, serta terkontaminasinya air laut oleh logam-logam berat dari pabrik yang membuang limbahnya ke laut. Juga permasalahan yang berdampak kepada kesehatan masyarakat seperti salinitas yang tinggi, kurangnya sanitasi lingkungan dan kurangnya air bersih.
Permasalahan tersebut memerlukan teknik konservasi yang tepat agar daerah ini dapat menunjang produktivitas masyarakat dalam melaut serta menjaga kelestarian daerah pesisir.
Salah satu caranya dengan :
Membangun siring (pemecah ombak) agar dampak abrasi dari gelombang berkurang.
Penanaman kembali hutan bakau di daerah pesisir pantai khususnya spesies (Avicennia).
Mengurangi aktivitas di hulu sungai.
Melakukan pengolahan limbah oleh pabrik yang bersangkutan.
Menanam atau mencangkok terumbu karang sebagai bentuk upaya jangka panjang melestarikan kawasan pesisir.
Masalah salinitas di daerah ini sangat berhubungan dengan kesadaran penduduk sekitar. Harus ada kegiatan yang menumbuhkan pemahaman pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan terhadap kualitas hidup. Sehingga masyarakat sadar untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Kekurangan air bersih merupakan dampak dari salinitas yang tinggi. Hal ini dapat ditanggulangi dengan mengadakan kerjasama dengan PDAM setempat untuk membangun tangki-tangki penyuplai air bersih bagi masyarakat sekitar. Tentunya langkah-langkah ini harus didukung penuh oleh pemerintah dan masyarakat sekitar agar berjalan dengan lancar. Dalam upaya konservasi juga terdapat kendala-kendala seperti perlunya dana yang besar dalam melakukan langkah-langkah tersebut, perlu waktu yang lama dalam memperbaharui kawasan ini, selain itu peran pemahaman masyarakat tentang pentingnya melestarikan daerah pesisir.

Daerah Tangkapan Air
DAMIT


Damit merupakan sebuah desa yang terletak di salah satu rangkaian pengunungan Meratus, wilayah terletak di dataran tinggi yang hampir seluruhnya tertutup padang ilalang dan hutan-hutan kecil. Damit merupakan salah satu daerah tangkapan air yang sangat penting yang terletak di kecamatan Jorong, kabupaten Tanah Laut. Namun, hutan tersebut telah dirusak dan intervensi menusia harus dilakukan.
Di dukung dengan banyaknya hutan dan terdapatnya bendungan untuk menampung air hujan dan aliran dari anak sungai yang terdapat di daerah tersebut. Air yang ditampung tersebut dapat di alirkan untuk kepentingan para petani yaitu untuk pengairan sawah dan ladang mereka. Tetapi sebagian dari hutan di daerah damit banyak yang ditebangi untuk keperluan masyarakat dan HPH. Akibat dari adanya penebangan tersebut dapat mengakibatkan kurangnya daerah tangkapan air yang dapat mengakibatkan kekeringan bahkan yang lebih fatal akibatnya adalah banjir dan tanah longsor dikarenakan tidak adanya penahan air. Selain itu kerja bendungan akan semakin berat karena air hujan akan tertampung semua ditambah dengan air yang berasal dari aliran anak-anak sungai yang dapat mengakibatkan tanggul jebol dan banjir. Di daerah Damit jika terjadi kekeringan, air irigasi hanya digunakan untuk pengairan ladang untuk tanaman palawija saja sedangkan untuk sawah tidak. 


Jenis air yang ada di kawasan damit ini adalah air meteroik yaitu air yang berada dalam siklus hidrologi (air hujan). Siklus hidrogeologi atau siklus air tanah erat hubungannya dengan siklus air meteorik. Siklus ini dapat berlangsung akibat panas dari radiasi sinar matahari. Selain itu terdapat juga proses evaporasi, evapotranspirasi dan presipitasi (hujan). proses evaporasi merupakan proses penguapan air ke atmosfer dari tubuh-tubuh air yang ada di bumi baik dari laut, sungai atau danau, evapotranspirasi adalah gabungan dari proses penguapan air yang terkandung di tanah yaitu soil moisture dari zona perakaran dan aktivitas vegetasi (transpirasi) dengan proses evaporasi dan presipitasi (hujan) akan mengembalikan air tersebut dari atmosfer ke daratan dan lautan.


Adapun tanaman-tanaman yang berpotensi sebagai tanaman obat di daerah tersebut antara lain karamunting untuk menghentikan diare, rumput remason untuk gatal-gatal, permot, dan kangkung. Juga tumbuh tanaman pangan dan sayuran seperti jagung, padi, kacang panjang, mentimun, tomat, singkong,tebu. Penyakit yang sering diderita warga sekitar yaitu penyakit demam berdarah dan penyakit kulit yang diakibatkan karena air yang kurang bersih dan kondisi alam yang berubah. Untuk mengurangi dampak-dampak yang terjadi, kita dapat melakukan beberapa tindakan yaitu mempercepat proses perbaikan bendungan agar dapat segera berfungsi dengan baik dan apabila tidak memungkinkan untuk pengairan yang lebih baik, lahan sawah dapat dialihfungsikan untuk tanaman palawija. Juga merupakan habitat bagi kepiting,semut, lalat, cacing, semut badak (salimbada), bekicot, siput, dan lebah tanah.


Daerah sekitar bendungan dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai perkebunan karet, ladang, dan pesawahan. Saat kami melakukan wawancara, salah seorang penduduk mengatakan bahwa tahun ini banyak padi yang rusak. Kondisi tanah yang kurang pas mengakibatkan busuknya akar padi khususnya yang berada di tengah sawah.

0 komentar:

Poskan Komentar